Category Archives: Academic

Journal of Guangzhou University (Social Science Edition)

Hutan Sitasi

Berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
Setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi serta merta kubuka

Berjalan diam-diam ternyata lebih bermakna
Semuanya berbicara sejujurnya

Ebiet G. Ade

Google Scholar, bagaimanapun, bekerja menurut sebuah algoritma yang tidak selalu dapat menangkap kenyataan yang ada. Peneliti dari China, India, dan Malaysia membangun risetnya dengan menggunakan sejumlah bahan dari artikel akademik kami. Ditinjau dari komposisi asal negaranya, tidak berlebihan kiranya apabila kami melihat adanya suatu indikasi ikatan, entah Psikologi ASEAN atau Psikologi Asia. Selamat menyimak.

Sitasi terhadap "Symbolic Meaning of Money, Self-Esteem, and Identification with Pancasila Values" dalam buku Karen Gross (2017)
Sitasi terhadap “Symbolic Meaning of Money, Self-Esteem, and Identification with Pancasila Values” dalam buku Karen Gross (2017)

Psikologi Korupsi

Ihwal apakah, tepatnya, yang dimuat dalam studi psikologi korupsi?

Mengapa tidak mulai dengan pengalaman keseharian? Ialah pengalaman yang membentuk wajah publik dari tindakan kita.

Ketika pengalaman koruptif sehari-hari  belum disadari (ironiknya, sambil mengaku anti-korupsi, lagi lantang menunjuk orang lain sebagai koruptor), kita tidak akan pernah mencapai suatu riset psikologi korupsi yang punya kekuatan untuk mencegahnya.

Mari saling mengasah titik dan dinamika persis studi psikologi korupsi!

Melihat Diri Kita Sendiri di Era Digital

Harriet Purkis dari Department of Hospitality and Tourism Management, Ulster University, Coleraine, UK mengutip penelitian Sharron dan Juneman Abraham (2015)
Harriet Purkis dari Department of Hospitality and Tourism Management, Ulster University, Coleraine, UK mengutip hasil penelitian Sharron dan Juneman Abraham (2015)

Berbagai ungkapan universal tentang pentingnya manusia belajar dari sejarah telah sering kita dengar. Kita yang mengamini sekaligus pula menginginkan agar tidak hanya kita dan orang-orang terdekat kita, melainkan juga warga pada umumnya, semakin terlibat dalam membangun dan membangun ulang “bekuan waktu” yang termuat dalam cultural heritage. Kita percaya bahwa banyak kebijaksanaan hidup lahir sejak kita mengerti pangkal asal-usul kita. Hidup menjadi lebih mudah dan indah dengan berbagai warna kebijaksanaan itu.

Bagaimanapun jua, di samping mengandung ingatan, warisan sosial dan kultural juga mengundang berbagai tafsir, bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Cara kita melihat diri sendiri pun mengalami evolusi dan jarang pernah sama. Selain peminat  sejarah, studi sosio/psikohistori, dan kurator, tampaknya merupakan tantangan tersendiri untuk sadar dan menjadi aktif berpartisipasi dalam pengalaman bersama warisan sosiokultural kita sendiri. Untuk itu, berbagai studi yang berupaya menyelidiki pemungkin, pemantik, pelestari, dan peningkat partisipasi warga ini berperan sangat sentral.

Dibutuhkan studi-studi terdepan yang mampu menjawab “kebutuhan” warga di era digital untuk mencari dirinya, dan menikmati pencarian itu, via situs-situs warisan kultural pada media daring (online media). Semoga sinergi virtual antara Sharron & Abraham (2015) dan Purkis (2016) dalam penyelidikan tersebut mampu memberikan khasanah ilmiah yang mencerahkan dalam hal ini.

Keseriusan Penelitian Berbuah Manis

Saya percaya bahwa kerja keras (sebagian ingin menyebutnya kerja cerdas, kerja bermakna, sepenuh hati) – termasuk dalam pemroduksian pengetahuan melalui riset/penelitian – akan berbuah manis. Sebuah hukum besi kehidupan mengatakan bahwa apa yang ditanam orang, itu juga yang akan dituainya.

Albert Szent-Gyorgyi (1893-1986) suatu saat berujar, “Research is to see what everybody else has seen, and to think what nobody else has thought.” Saya dan rekan-rekan sungguh merasakan kelok dan terjalnya jalan yang kami lalui sepanjang kami berproses dalam “perjuangan melihat dan berpikir” yang dilukiskan oleh Szent-Gyorgyi  dalam riset.

Syukurlah, puji Tuhan, Alhamdulillah, salah satu karya kami (S. Anindya, V. Leolita, dan J. Abraham), The role of psychology in enhancing public policy: Studies on political apathy and attachment to the city yang terbit dalam International Journal of Research Studies in Psychology, dalam December Special Issue, Vol 3 No 5, halaman 99-114, mendapat perhatian internasional.

Penelitian kami yang mengambil topik Peran Psikologi dalam Meningkatkan Kualitas Kebijakan Publik dengan mengangkat dua buah studi, yakni apati politik dan kelekatan pada kota, dengan total jumlah partisipan 444 dari Jakarta dan sekitarnya, serta Bali ini, disitasi dan dijadikan referensi oleh sebuah jurnal psikologi terkemuka terbitan Cambridge University Press, yaitu Journal of Pacific Rim Psychology (2015).

The Role of Psychology in Enhancing Public Policy
The Role of Psychology in Enhancing Public Policy” disitasi dalam artikel “Sharpening Our Undertsanding of Social Problems in Asian Societies: The Roles of Culture and Theory in Socially Engaged Social Psychology”

Penulisnya, Prof. Allan B. I. Bernardo (dari University of Macau di China) dan Prof. James H. Liu (dari Massey University di Selandia Baru), merupakan para psikolog yang sangat dikenal reputasinya dalam penelitian psikologis, khususnya dalam bidang psikologi sosial, ulayat (indigenous), dan lintas budaya (cross-cultural).

Kenyataan yang kami alami ini di samping sungguh menggembirakan kami juga memacu kami untuk terus melahirkan karya bermutu sehingga layak untuk menjadi referensi lintas-bangsa dan lintas-benua.

Merayakan Teks, Mensyukuri Hidup

MUDRA JournalAda banyak beban yang disematkan pada frasa merayakan teks. Saya mengasosiasikannya dengan mensyukuri hidup. Empat tahun sudah buku yang saya tulis, Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas) Jilbab, hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan segala impact-nya. Ribuan konteks mengitari lahirnya buku ini. Ribuan pula upaya kontekstualisasi dan dekontekstualisasi menggerayangi buku ini pasca lahirnya. Selaku pengarang, saya bersyukur bahwa saya pernah dan sedang melalui seluruh masa itu: masa mempersiapkan warna, masa memberi warna, serta masa diwarnai (untuk kembali mewarnai).

Dalam kesempatan ini, saya ingin memaparkan sejumlah karya yang mensitasi (orang dulu bilang: “mensitir”, “menyitir”) buku saya tersebut. Isinya menarik, lho 🙂

Sinopsis Buku-Buku Keagamaan KontemporerDiterbitkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Kementerian Agama, 2012. Editor: Prof. Dr. Ibnu Hammad. Penulis: Drs. H. E. Badri Yunardi, M.Pd., dkk.

Fashion Berbahan Songket: Perpaduan Antara Lokalitas dan Gaya Hidup Konsumen di Era Posmodern. Penulis: A. A. Istri Ngurah Marhaeni, I Ketut Sida Arsa, dan I Nyoman Sila. Diterbitkan dalam Jurnal MUDRA, Vol 28, No 1, 2013, hlm 72-80, ISSN 0854-3461, Institut Seni Indonesia-Denpasar.

Jilbab Sebagai Fenomena Agama dan Budaya (Interpretasi Terhadap Alasan Mahasiswi Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam Memilih Model Jilbab). Ditulis oleh Aryani Nurofifah. Skripsi Sarjana Humaniora (S.Hum), Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Impulsive buying – Indonesia and India

Saya bersama dengan seorang mahasiswi saya melakukan penelitian tentang pembelian impulsif pada 2013. Artikel kami dapat diakses sebagai berikut:

Impulsive buying, cultural values dimensions, and symbolic meaning of money: A study on college students in Indonesia’s capital city and its surrounding

Rekan peneliti dari India melakukan penelitian lebih lanjut dengan turut merujuk pada artikel kami (Dameyasani & Abraham, 2013). Artikel tersebut terbit dalam Journal of Retailing and Consumer Services pada 2014 sebagai berikut:

Culture and Impulsive Buying

Intrinsic factors affecting impulsive buying behaviour—Evidence from India

 

Juneman Abraham, social psychologist