Tag Archives: psikologi kebijakan publik

Keseriusan Penelitian Berbuah Manis

Saya percaya bahwa kerja keras (sebagian ingin menyebutnya kerja cerdas, kerja bermakna, sepenuh hati) – termasuk dalam pemroduksian pengetahuan melalui riset/penelitian – akan berbuah manis. Sebuah hukum besi kehidupan mengatakan bahwa apa yang ditanam orang, itu juga yang akan dituainya.

Albert Szent-Gyorgyi (1893-1986) suatu saat berujar, “Research is to see what everybody else has seen, and to think what nobody else has thought.” Saya dan rekan-rekan sungguh merasakan kelok dan terjalnya jalan yang kami lalui sepanjang kami berproses dalam “perjuangan melihat dan berpikir” yang dilukiskan oleh Szent-Gyorgyi  dalam riset.

Syukurlah, puji Tuhan, Alhamdulillah, salah satu karya kami (S. Anindya, V. Leolita, dan J. Abraham), The role of psychology in enhancing public policy: Studies on political apathy and attachment to the city yang terbit dalam International Journal of Research Studies in Psychology, dalam December Special Issue, Vol 3 No 5, halaman 99-114, mendapat perhatian internasional.

Penelitian kami yang mengambil topik Peran Psikologi dalam Meningkatkan Kualitas Kebijakan Publik dengan mengangkat dua buah studi, yakni apati politik dan kelekatan pada kota, dengan total jumlah partisipan 444 dari Jakarta dan sekitarnya, serta Bali ini, disitasi dan dijadikan referensi oleh sebuah jurnal psikologi terkemuka terbitan Cambridge University Press, yaitu Journal of Pacific Rim Psychology (2015).

The Role of Psychology in Enhancing Public Policy
The Role of Psychology in Enhancing Public Policy” disitasi dalam artikel “Sharpening Our Undertsanding of Social Problems in Asian Societies: The Roles of Culture and Theory in Socially Engaged Social Psychology”

Penulisnya, Prof. Allan B. I. Bernardo (dari University of Macau di China) dan Prof. James H. Liu (dari Massey University di Selandia Baru), merupakan para psikolog yang sangat dikenal reputasinya dalam penelitian psikologis, khususnya dalam bidang psikologi sosial, ulayat (indigenous), dan lintas budaya (cross-cultural).

Kenyataan yang kami alami ini di samping sungguh menggembirakan kami juga memacu kami untuk terus melahirkan karya bermutu sehingga layak untuk menjadi referensi lintas-bangsa dan lintas-benua.