Category Archives: Everyday’s Life

Lebaran: Antara THR Keluarga dan Urbanisasi

Setelah Idul Fitri 2026, saya berkesempatan berbagi dengan Harian Kompas dan BINUS TV, masing-masing mengenai fenomena urbanisasi dan THR dalam keluarga.

Ke Jakarta aku kan kembali//walaupun apa yang kan terjadi//ke Jakarta aku kan kembali//walaupun apa yang kan terjadi.

Demikian refrein lagu legendaris berjudul ”Kembali ke Jakarta” karya Koes Plus yang sangat lekat di telinga orang Indonesia dari generasi ke generasi. Lagu ini seperti gambaran daya tarik Jakarta sebagai tujuan utama untuk menyambung hidup. Orang rela meninggalkan kampung halamannya demi kembali bekerja di Jakarta.

Salah satunya adalah Nashrullah Arifin (27) yang bekerja sebagai konsultan pajak. Sekembali ke Jakarta seusai cuti panjang Lebaran di kampung halamannya di Malang, Jawa Timur, ia merasa suatu kejutan budaya (culture shock).

Selama sepekan berada di kampung halaman, Nashrullah mengaku, ritme hidupnya berjalan jauh lebih santai. Namun, begitu menjejakkan kaki kembali di Jakarta, ia langsung dihadapkan pada realitas Ibu Kota yang serba cepat.

”Kita kan balik ke kampung slow down. Begitu seminggu sudah di kampung, balik ke Jakarta lagi rasanya kayak dar-der-dor. Langsung cepat lagi geraknya,” tutur Nashrullah, Selasa (24/3/2026).

Kelelahan fisik akibat perjalanan turut memperberat masa adaptasi awalnya. Nashrullah beserta istrinya menempuh perjalanan darat semalaman menggunakan bus dari Malang dan baru tiba di Jakarta pada pagi hari. Meskipun mereka bisa tidur di bus, kualitas istirahat di kendaraan dinilai jauh berbeda dengan tidur di kasur rumah.

Setibanya di Jakarta, alih-alih langsung beraktivitas, mereka masih harus membersihkan tempat tinggal yang dibiarkan kosong selama sepekan lebih. Namun, rasa letih yang mendera membuat keduanya memilih untuk langsung beristirahat guna membayar utang tidur.

Menurut Nashrullah, tantangan psikologis sesungguhnya baru terasa ketika ia harus kembali menghadapi rutinitas pekerjaan. Setelah tubuh dan pikiran telanjur terbiasa dengan ritme liburan yang santai, menyalakan kembali ”mesin” produktivitas nyatanya butuh waktu pemanasan. Ada jeda adaptasi yang harus dilalui untuk bisa mengembalikan fokus dan kebiasaan profesionalnya.

”Waktu balik kerja di Jakarta tuh kayak harus adaptasi lagi habit-nya kayak apa. Hampir agak lupa gimana caranya kerja,” ujarnya sembari tertawa.

Rasa lelah juga masih dirasakan Nia (30), seorang tenaga teknologi laboratorium medis di Jakarta Barat. Ia sudah harus langsung bekerja sejak Senin (23/3) pagi meski baru tiba dari Sukoharjo, Jawa Tengah, 30 menit sebelum jam kerja. Ritme kehidupan yang serba cepat kembali dijalani.

”Ya, karena kita harus bekerja memenuhi kuota dompet setiap hari,” ujar Nia sambil tertawa saat ditemui di kantornya.

Lapangan kerja

Ketika merasa lelah, Nia teringat saat mencari pekerjaan seusai lulus sekolah menengah kejuruan pada 2013. Saat itu, ia melamar pekerjaan di sekitar kampung halamannya seperti Sukoharjo, Surakarta, hingga Klaten, Jawa Tengah, meski hasilnya nihil. Akhirnya, Nia mencoba melamar di luar Jawa Tengah dan memperoleh pekerjaan di Jakarta.

Belum lagi, ia dikuliahkan oleh perusahaannya hingga jenjang diploma empat. Berkat penghasilannya yang diperolehnya sekarang, Nia dapat membantu pendidikan kedua adiknya hingga lulus kuliah. Ia juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan jaminan kesehatan, meski ia harus bekerja mulai Senin hingga Sabtu.

Karena sudah lama tinggal di Jakarta, Nia sudah terbiasa dengan kemacetan jalan dan polusi udara di Ibu Kota. Segala kesemrawutan Jakarta tak lagi menjadi persoalan baginya. Berbeda dengan ketika awal merantau tiga tahun lalu, Nia mengaku perlu banyak beradaptasi dengan situasi dan ritme kerja di Jakarta.

Meskipun waktu berjalan begitu cepat dan melelahkan, banyak orang rela berbondong-bondong datang ke kota yang menyandang status sebagai kawasan aglomerasi terpadat di dunia ini. Menurut laporan World Urbanization Prospects (WUP) yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jumlah penduduk Jakarta pada 2025 mencapai 42 juta jiwa.

Berdasarkan data kependudukan semester I tahun 2025 dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk administratif DKI Jakarta tercatat sebanyak 11.010.514 jiwa. Jumlah tersebut menurun 27.702 jiwa dibandingkan dengan semester II-2024.

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto menjelaskan, angka 42 juta dari WUP bukan penduduk yang memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) Jakarta. Angka tersebut merupakan jumlah aktivitas masyarakat megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang terpusat di Jakarta.

Gubernur Jakarta Pramono Anung di Balai Kota Jakarta, Sabtu (21/3), memperkirakan sebanyak 10.000 hingga 12.000 pendatang baru mengadu nasib di Jakarta seusai Lebaran 2026. Angka tersebut hampir sama dengan perkiraan tahun 2025, yakni 10.000 sampai 15.000 orang.

Panggung paling terang

Saat dihubungi, ahli psikologi sosial dari Binus University, Juneman Abraham, berpandangan, Jakarta ibarat panggung teater yang lampunya paling terang. Meskipun sesak dan bising, aktor-aktor hebat dari daerah tidak punya pilihan selain tampil di Jakarta. Sebab, di kampung halaman mereka tidak pernah diberi lampu dan naskah yang layak.

Sejarah urbanisasi Indonesia bukan hanya perpindahan penduduk, melainkan pemusatan napas kehidupan yang menciptakan ketergantungan ekologis. Pembangunan daerah sering kali terjebak pada tataran fisik seperti jalan dan jembatan yang megah, tetapi gagal menyentuh ekonomi warga di bawah. Akibatnya, persepsi kendali kehidupan pada warga di daerah tetap rendah.

”Mereka merasa tidak punya agensi atau kontrol atas nasibnya jika tetap tinggal di desa yang sunyi peluang. Jakarta seolah menjadi satu-satunya panggung di mana agensi individu bisa ’berbunyi’, meskipun harus dibayar dengan kebisingan dan polusi yang mengasingkan manusia dari kemanusiaannya,” jelas pengurus Ikatan Psikologi Sosial Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) tersebut.

Menurut Juneman, kegagalan pembangunan daerah selama ini dipelihara oleh narasi terselubung bahwa daerah belum siap atau masyarakatnya kurang kompetitif. Hal itu merupakan sebentuk kekerasan simbolik yang membuat ketimpangan dianggap sebagai kesalahan mentalitas warga, bukan kegagalan struktur.

Dalam konteks ini, arus balik ke ibu kota adalah sebuah protes tanpa kata. Rakyat memilih, tetapi pilihan mereka disetir oleh struktur yang tidak adil. Selama narasi pembangunan hanya fokus pada fisik tanpa merombak distribusi kekuasaan dan modal, Jakarta akan tetap menjadi pelarian yang dipaksakan. Karena rakyat sibuk untuk bertahan hidup di Jakarta, mereka cenderung tidak memiliki energi untuk menggugat ketimpangan struktural yang lebih besar.

”Kita harus berhenti menyalahkan mentalitas pemudik dan mulai menggugat sistem yang membuat mereka merasa asing di rumah sendiri. Pemerataan sejati bukan hanya soal menyemarakkan gedung dan fasilitas, tetapi memindahkan kedaulatan ekonomi agar setiap orang memiliki kontrol perilaku yang nyata untuk berdaya di daerah asalnya,” kata Juneman.

Kisah Nia, Nashrullah, dan Ridha memperlihatkan, Jakarta bukan sekadar kota tujuan, melainkan ruang pertaruhan. Di tengah riuhnya arus balik pascaLebaran, Jakarta memanggil dengan janji kesempatan, sekaligus menuntut daya tahan.

(Oleh Prayogi Dwi Sulistyo, Willy Medi Christian Nababan

26 Mar 2026 08:00 WIB)

Di Balik Amplop Lebaran: Cerita Relasi Keluarga dan Ekspektasi Sosial

Pemujaan Selebritis dan Siasat Berkegiatan Rawan Kerumunan

Siasat Berkegiatan Rawan Kerumunan agar Tetap Aman

Perbincangan tentang psikologi penggemar dalam kaitan dengan perilakunya dalam situasi pertunjukan atau pun konser. Dikutip dari Kompas, 9 November 2022

Agar tak tersiksa, apalagi terluka sampai hilang nyawa saat berdesak-desakan dalam kerumunan, seperti waktu nonton konser, sejumlah orang bersiasat. Ada yang menjauhi tribune, memastikan tubuh fit, dan mematuhi aturan.

OlehMIS FRANSISKA DEWI

9 November 2022 12:10 WIB· 6 menit baca

JAKARTA, KOMPAS — Peristiwa Kanjuruhan, Itaewon, hingga konser musik K-Pop NCT 127, Jumat (4/11/2022), membuat banyak pihak waspada saat terlibat dalam kegiatan keramaian dengan potensi terjadi kerumunan. Penyelenggara acara, otoritas, dan penikmat hiburan perlu menyiapkan antisipasi agar kegiatan lancar serta nyawa pun selamat.

Hal ini turut dilakukan para penggemar K-pop, mereka bersiasat pada saat menonton konser idola mereka agar tidak terjadi lagi insiden penonton pingsan dan konser dihentikan. Dari pengalaman Yulia Zahra (25) saat menonton konser, ia belum pernah merasakan bentrok atau insiden yang mengakibatkan penonton pingsan karena dorong-dorongan seperti saat konser NCT 127 pekan lalu di Tangerang Selatan.

Perempuan yang biasa dipanggil Ara itu mengungkapkan, aksi dorong-dorongan dalam konser K-pop sudah ada sejak pertama kali ia nonton konser K-Pop Music Bank pada 2013. Penonton yang memilih menonton di area tribune memiliki risiko berdesakan. Namun, aksi pagar pembatas roboh, konser dihentikan, hingga menyebabkan pingsan baru pertama kali terjadi pada konser NCT 127.

”Serusuh-rusuhnya konser, ya, gitu aja, enggak sampai kayak NCT 127 kemarin. Sebetulnya, kalau konser, tidak masalah kalau harus di belakang. Cari tribune yang duduk, bukan festival, untuk menghindari aksi dorong-dorongan. Kalau yang sudah suka K-Pop dari dulu sekadar nonton saja buat ngerasain atmosfernya. Nonton konser, ya, nonton saja tidak perlu ada aksi berlebihan,” kata Ara di Jakarta, Selasa (8/11/2022).

Setiap tahun, penggemar K-Pop makin bertambah sehingga banyak penggemar baru yang bermunculan. Mulai dari anak sekolah hingga dewasa. Hal ini, kata Ara, membuat beberapa penggemar baru sangat antusias ingin melihat langsung idolanya secara dekat hingga mengabaikan syarat dan ketentuan yang berlaku.

”Rasa sukanya masih menggebu-gebu. Beberapa orang masih belum tahu garis antara real dan halu kalau itu hanya idola. Mereka juga ingin mendapat perhatian karena sekarang banyak tren HP diambil idola sehingga mereka bisa pamer di media sosial,” ujar Ara.

Penggemar K-pop lainnya, Verina Intan (25), telah menonton konser K-pop sejak 2018. Ia telah memprediksi konser NCT 127 akan ricuh. Berkaca pada konser NCT Dream (20/5/2022), Verin memilih nonton konser NCT 127 dengan posisi duduk daripada harus berdiri karena ia tidak ingin mengulangi kejadian didorong oleh penonton lainnya dan sesak napas saat konser Wanna One World Tour empat tahun lalu.

Sebelum datang konser, Verin mencari tahu dulu mengenai informasi antusias penggemar. Jika penggemar grup K-Pop tersebut banyak dan berpotensi ricuh, ia akan membeli tiket dengan posisi duduk daripada harus berdiri karena lebih aman. Seperti waktu dan dapat nomor tempat duduk sehingga bisa datang mepet waktu konser.

”Posisi duduk juga kalau ribet sama tas atau barang bisa disimpan di kursi atau di kolong kursi. Saat konser berlangsung pun tidak capek. Kalau berdiri, otomatis energi yang dikeluarin lebih banyak, kaki pegal, belum lagi harus membawa tas,” kata Verin yang sudah nonton konser K-Pop sebanyak 10 kali itu.

Verin menekankan, ketentuan yang berlaku dari promotor harus diikuti penonton konser K-Pop. Selain itu, informasi mengenai persiapan konser juga banyak dibagikan di media sosial dan grup fanbase. Namun, menjaga kesehatan beberapa hari sebelum konser perlu diperhatikan agar badan tetap fit saat konser berlangsung.

Verin pun membagikan tips menonton konser yang aman, seperti datang beberapa jam lebih awal dan lebih menghemat energi, minum air agar tidak dehidrasi, minum vitamin, membawa barang seperlunya, pakai pakaian dan sepatu yang nyaman, dan membawa obat-obatan pribadi yang bisa diminum saat genting.

”Konser NCT 127 kemarin kebetulan maag aku kambuh, aku bawa obat yang setahu aku bisa diminum dengan air dan bisa juga dikunyah jadi gampang,” ucapnya.

Mencari perhatian

Dewasa ini, gejala pemujaan selebritas makin marak dengan kemudahan mengakses selebiritas melalui internet. Anggota Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) bidang Pengembangan Pendidikan dan Standar Kompetensi Psikologi, Juneman Abraham, menjelaskan, dua dari tiga tingkatan pemujaan selebritas tersebut perlu diwaspadai, yaitu intense-personal dan borderline-pathological.

Pada tingkatan intense-personal, ada perasaan yang kuat terhadap selebritas seolah-olah idola adalah sahabat dekatnya atau bahkan belahan jiwanya. Tidak berjumpa saja, seorang penggemar bisa memiliki emosi yang kuat. Apalagi, kalau berjumpa langsung secara fisik, intensitas emosinya akan membeludak.

Jika seorang penggemar tidak memiliki self-esteem yang kuat, egonya tidak tahan menampung luapan emosi yang berpengaruh ke seluruh tubuh. Hal ini bisa mendorong terjadinya hilangnya kesadaran. Adapun pada tingkatan borderline-pathological, penggemar dapat menjadi antisosial untuk mengaktualkan perasaan memuja dan memiliki selebritas yang diidolakan.

Ketika perilaku antisosial ini berbalas dengan antisosial lainnya, situasi menjadi tidak terkendali dan mendorong terjadinya pingsan. Selebritas lawan jenis akan memicu reaksi persaingan antarpenggemar. Setiap penggemar dengan usahanya masing-masing berteriak-teriak dan nekat maju ke panggung merupakan hasrat untuk memenangi hati idola yang ada di panggung. Seolah-olah ingin mengatakan ”lihatlah aku, pilihlah aku”.

Selain itu, ada pengalaman kenikmatan dalam proses persaingan sesama penggemar. Ada juga perasaan bangga pada diri seorang penggemar ketika berhasil menunjukkan perilaku tersebut. Apalagi, bisa foto bareng atau terasosiasi dengan idola sehingga dianggap penggemar yang paling loyal.

”Masalahnya, perilaku berteriak-teriak sampai histeris dan beragam perilaku nekat dan impulsif mudah sekali menjadi tidak terkendali karena aspek intense-personal dan borderline-pathological yang gampang menular dalam kerumuman massa. Kekurangan oksigen karena kehebohan perilaku sendiri dan konteks lingkungan yang padat mendorong terjadinya hilangnya kesadaran,” tuturnya.

Memuja secara tepat

Untuk menghindari hal tersebut, Juneman mengungkapkan, penggemar perlu mendapatkan edukasi berkelanjutan sejak dini, baik oleh orangtua maupun sekolah. Pemujaan selebritas tidak masalah asalkan masih dalam tahap wajar. Pemujaan terhadap selebritas cukup sebatas hiburan, ajang rekreatif, sarana saling mengenal dalam komunitas, serta memperoleh inspirasi tentang prestasi dalam dunia seni dan hiburan.

Dengan demikian, hal ini dapat mencegah untuk menyukai secara berlebihan dari penggemar terhadap idolanya. Kampanye sosial tentang memuja secara tepat terhadap selebritas adalah pekerjaan bersama di institusi pendidikan. Hal ini penting karena eksistensi anak muda yang ingin diakui di media sosial atau di lingkungan sekitar dengan cara meniru idolanya.

”Kalau saya istilahkan, pemujaan terhadap selebritas ini adalah ciri dari manusia yang merupakan makhluk yang bermain atau homo ludens. Bermainlah, tetapi tidak perlu terlalu serius hingga kehilangan aspek kelucuan atau menyenangkan dari permainan itu, bahkan merusak kehidupan,” ucapnya.

Para idola juga sebaiknya turut memahami dinamika perilaku massa sehingga dapat ikut ambil bagian mengendalikan situasi. Misalnya, ketika di atas panggung memberikan tanggapan yang tidak memicu perasaan iri antarpenggemar, juga sesekali bisa mengingatkan tentang pentingnya keselamatan dari setiap yang hadir.

Aspek lingkungan, manajemen ruang, dan manajemen kerumunan harus dikuasai oleh penyelenggara. Komunitas juga bisa mengantisipasi sejak awal dengan berbagai kampanye berperilaku tertib dan aman.

”Perilaku instingtual para penggemar dalam menggaet lawan jenis di ruang konser itu secara psikologis evolusioner memang masuk akal, tetapi perilaku berteriak-teriak dan nekat demi mencari perhatian selebritas itu tidak ada gunanya,” katanya.

Bukan hanya tidak ada gunanya, tetapi juga berisiko mengganggu suasana konser. Misalnya, alunan lagu menjadi kurang terdengar hingga kondisi mematikan kalau terjadi semakin sengit dan dorong-dorongan.

Kepalsuan Dalam Budaya Instan

Sebuah tulisan mengenai Psikologi Budaya Instan, seperti yang saya tulis dan terbitkan, rupa-rupanya memang dibutuhkan karena kenyataan yang memarak (sebut saja, untuk mengupas kasus Dimas Kanjeng). Uniknya, sebuah artikel di surat kabar Wawasan, 13 Juli 2014, berjudul “Budaya Instan, Baik atau Buruk?” justru secara instan mengambil bagian-bagian dari artikel saya (tanpa menyebut sumbernya). Sebagai contoh, “Budaya instan juga baik ketika memiliki fungsi meningkatkan pemberdayaan diri”, “ruang dan waktu privat telah direnggut oleh budaya instan”; meskipun dalam seksi tulisan lain, “Dunia Doraemon di Sekitar Kita”, sumber disebut (untuk bahasan yang berbeda). Kritikus budaya instan kok melakukan praktik instan? Sudah permisifkah kita terhadap kepalsuan?

Dua buah artikel Opini yang identik terbit di Bali Post, 4 Oktober 2016, dan di Suluh Indonesia, 5 Oktober 2016, berjudul “Budaya Instan dan Investasi Fiktif” juga patut kita simak. Untuk diketahui, tulisan dalam Suluh Indonesia dimuat juga secara sinergis dengan Kelompok Media Bali Post.

Sumber Artikel Surat Kabar.

Sumber: http://www.gettyimages.co.uk/detail/news-photo/afrizal-malna-schriftsteller-aktivist-indonesien-news-photo/549677871

Memberikan Karakter Pada Sebuah Buku

Penyair, yang juga orang yang berkenan menulis Epilog untuk buku saya, Afrizal Malna, menolak untuk menerima Hadiah Achmad Bakrie 2016.

Dengan ini, saya boleh berbesar hati, setidaknya bahwa ada sosok yang memiliki karakter—yang tidak mau “disetir” oleh kepentingan-kepentingan yang sesungguhnya ingin merebut (kalau tidak merampas) diri dan karyanya (dari dirinya sendiri!)—yang menjadi bagian penting dari buku saya.

Sudah saatnya halaman-halaman Prolog, Epilog, dan Endorsement dari sebuah buku tidak menggantungkan diri pada sosok-sosok yang memiliki gelar/pangkat akademik, kedudukan politik/ekonomik, atau popularitas/selebritas yang seringkali temporal dan oportunistik, melainkan memberikan tempat terhormat bagi sosok yang berkarakter.

Niscaya, buku-buku kita akan menjadi teramat sangat hidup!