Tag Archives: kesehatan mental

Psikologi Digital & Artificial Intelligence

Dalam rangka menyambut KONGRES XV HIMPSI dan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Road to Congress XV HIMPSI, terselenggara Webinar “Psikologi Digital & Artificial Intelligence: Menavigasi Peran, Etika, dan Inovasi” pada 9 Mei 2026 via Zoom online.


Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk bidang psikologi. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru dalam layanan kesehatan mental, mulai dari penggunaan chatbot konseling, analisis data perilaku, hingga sistem deteksi dini gangguan psikologis.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul pula tantangan besar terkait etika, privasi, dan peran psikolog dalam memastikan bahwa teknologi digunakan secara aman dan bertanggung jawab.


Data menunjukkan pelanggaran etika dan privasi akibat penggunaan AI antara lain:

  1. Lonjakan insiden AI, seperti yang disampaikan Stanford AI Index Report 2025, jumlah insiden terkait privasi dan keamanan akibat AI meningkat 56,4% dalam satu tahun, dengan 233 kasus dilaporkan sepanjang 2024. Kasus ini mencakup kebocoran data hingga kegagalan algoritma yang mengkompromikan informasi sensitif .
  2. Perusahaan terdampak: Survei menunjukkan sekitar 40% perusahaan melaporkan pernah mengalami insiden privasi terkait AI. Selain itu, 15% karyawan diketahui menyalin informasi sensitif ke chatbot publik, yang berisiko bocor ke pihak ketiga.
  3. Kepercayaan publik rendah: Sekitar 70% orang dewasa tidak percaya perusahaan menggunakan AI secara bertanggung jawab, dan lebih dari 80% masyarakat mengantisipasi adanya penyalahgunaan. Hal ini menimbulkan kerugian reputasi yang lebih besar dibanding sekadar denda hukum.

Di era digital saat ini, masyarakat semakin terbiasa mengakses layanan psikologi melalui platform daring. Psikolog dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sekaligus menjaga kualitas intervensi dan hubungan terapeutik.

AI dapat menjadi mitra kerja yang mendukung proses asesmen, monitoring, dan edukasi, tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia yang esensial dalam praktik psikologi. Oleh karena itu, pemahaman tentang batasan penggunaan AI serta strategi integrasi yang tepat menjadi hal yang krusial

Selain itu, isu kode etik profesi menjadi sorotan penting. Bagaimana psikolog memastikan kerahasiaan data klien, menghindari bias algoritma, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik digital? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut diskusi mendalam agar psikolog tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktor yang kritis dan inovatif dalam mengarahkan pemanfaatan AI.

Sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah dan profesional, Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) berkomitmen memperkuat kapasitas dan sensitivitas anggotanya terhadap isu- isu Psikologi Digital & AI dalam menavigasi peran, etika dan inovasi . Dalam rangka menuju Kongres HIMPSI yang menjadi forum tertinggi pengambilan kebijakan organisasi dan pengembangan profesi psikologi di Indonesia, rangkaian Pra-Kongres HIMPSI digelar sebagai ajang berbagi gagasan, memperluas perspektif, dan memperkuat jejaring lintas bidang psikologi.

Salah satu kegiatan ilmiah dalam rangkaian Pra-Kongres tersebut adalah Webinar “Psikologi Digital & Artificial Intelligence: Menavigasi Peran, Etika, dan Inovasi”. Webinar berseri ini menjadi bagian penting dari Pra-Kongres HIMPSI, sebagai wujud nyata komitmen organisasi dalam memperkuat kontribusi psikologi dalam era psikologi digital dan Artificial Intelligence. Webminar ini diharapkan menjadi ruang dialog yang produktif bagi para psikolog, akademisi, praktisi, dan masyarakat untuk memahami secara lebih mendalam dinamika psikologi di era digital yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan Artificial Intelligence.

Dengan mengangkat isu peran, etika, dan inovasi, kegiatan ini tidak hanya menyoroti peluang besar yang ditawarkan AI dalam mendukung layanan psikologi, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan, privasi, dan kode etik profesi.

Melalui seminar ini, diharapkan lahir gagasan, strategi, serta kolaborasi yang mampu memperkuat posisi psikologi sebagai disiplin ilmu yang adaptif, relevan, dan berdaya guna dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, seminar ini bukan sekadar forum akademik, tetapi juga langkah nyata menuju praktik psikologi digital yang etis, inovatif, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.

Kesehatan Jiwa dan Pancasila di Kompas TV dan DAAI TV

Pada 28 Mei 2024, saya membicarakan 4 poin tentang Kesehatan Jiwa/Kesehatan Mental di acara Berkas Kompas TV:

  1. Pentingnya kesehatan jiwa sama penting dgn kesehatan fisik.
  2. Kesehatan mental sebagai hak warga negara.
  3. Pentingnya riset terhadap big data dari layanan konseling daring.
  4. Korelasi antara kesehatan jiwa, produktivitas masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi kota.

Pada 3 Juni 2024, saya diundang DAAI TV untuk berbicara tentang Hari Lahir Pancasila, khususnya tentang kebijakan pembangunan: Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila? Saya menyampaikan beberapa hasil riset tentang Psikologi Pancasila. Bahwa penting untuk menjadi teladan konkret dalam hidup sehari-hari dan tidak senjang antara latar depan dan latar belakang.

Memaknai “Hidden Gem” secara Psikologis

Menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia 2023, saya memberikan pendapat ahli di bidang kesehatan jiwa mengenai bagaimana memaknai Hidden Gem (tempat tersembunyi, “harta tersembunyi”) secara psikologis.

Dimuat di Harian Kompas (cetak) tanggal 7 Oktober 2023. Versi daring terbit di Kompas.id dengan judul yang sama. Berikut adalah petikannya:

Kejutan Asyik di Tempat Tersembunyi

Di tengah tekanan dan kepenatan rutinitas, warga mencari rekreasi dengan bepergian ke tempat-tempat unik yang tersembunyi. Ada Kampoeng Gallery, ada juga Arborea Cafe.

Oleh
BENEDIKTUS KRISNA YOGATAMA, PRAYOGI DWI SULISTYO, DAHLIA IRAWATI
7 Oktober 2023 02:00 WIB

Jalan-jalan untuk menyehatkan jiwa (healing) kini sedang merebak di kalangan anak muda. Kegiatan semacam rekreasi untuk menghilangkan kepenatan dari tekanan dan rutinitas ini juga sering dilakukan dengan mencari tempat unik dan istimewa yang terkesan tersembunyi dan belum banyak diketahui orang atau istilah zaman now hidden gem.

Tulilulit… tulilulit…. Sirene palang pintu pelintasan kereta berbunyi nyaring di Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (26/9/2023) siang. Woosshhh…. Kereta komuter pun melewati jalurnya. Tak lama ratusan penumpang turun dari kereta dan menghambur berjalan keluar stasiun.

Di bagian luar stasiun, tumpah ruah pedagang loak yang memadati sebagian badan jalan raya. Para pejalan kaki harus berbagai ruang dan bercampur aduk dengan kendaraan bermotor dan angkutan umum yang parkir mangkal sembarangan. Begitulah pemandangan sehari-hari sekitar Stasiun Kebayoran Lama.

Namun, siapa yang menduga, di tengah kesemrawutan itu, tersembunyi sebuah tempat nongkrong unik yang kini tengah digemari anak muda, yaitu Kampoeng Gallery. Sekilas, lokasi warung makan dengan dekorasi unik barang-barang hobi tahun lama ini tidak akan terlihat jika hanya sekali lewat. Berlokasi di Jalan Masjid Al Huda atau persis di bagian belakang Stasiun Kebayoran Lama, Kampoeng Gallery tersembunyi di balik warung-warung dan kios lainnya.

Baca juga: ”Healing” Tipis-tipis di Belantara Ibu Kota

Namun, begitu sudah masuk ke dalam, suasana sungguh berbeda. Berbeda 180 derajat dengan situasi di luar yang kibang-kibut itu, suasana di dalam Kampoeng Gallery penuh canda tawa kehangatan anak muda yang tengah berkumpul bersama.

Kampoeng Gallery ini berbeda dengan tempat nongkrong lain. Seluruh bagian dinding dihiasi berbagai barang koleksi kuno, seperti radio kuno, gitar listrik lawas, dan majalah dinding. Sebanyak 80 persen barang koleksi di sini bisa dijual kepada pengunjung yang tertarik.

Tempat ini juga seperti perpustakaan. Pengunjung juga bebas meminjam buku. Selain itu, tempat ini juga menjual kaset, CD, dan piringan hitam. Mereka juga menyediakan area untuk pertunjukan musik, drama, bedah buku, hingga pameran foto dan lukisan.

Fikri adalah satu pengunjung tetap Kampoeng Gallery. Ia merasa, tempat itu sungguh nyaman baginya, baik ketika sedang nongkrong bersama temannya maupun sedang sendirian menghilangkan penat di indekosnya.

”Konsepnya asyik. Harga makanannya terjangkau. Vibes-nya enaklah saya suka,” ujar pria 25 tahun ini.

Salah satu alasan Fikri sering kemari adalah karena dekat dengan indekosnya yang juga di kawasan Kebayoran Lama. Namun, sebelumnya dia tidak menyadari keberadaan Kampoeng Gallery. Fikri baru mengetahuinya seusai menyaksikan konten rekomendasi tempat makan hidden gem di Tiktok.

Saat hendak menuju lokasi, dia sempat kesulitan. Setelah tanya warga, barulah dia menemukan lokasi itu. Kini, dia rutin bolak-balik berkunjung ke sini. ”Betul-betul hidden gem,” ujarnya.

Pendiri dan pemilik Kampoeng Gallery, Ivan Moningka, bercerita, Kampoeng Gallery didirikan 2010. Konsep dari tempat ini adalah agar jadi tempat yang nyaman bagi anak muda mengekspresikan diri dalam seni dan belajar. Adapun koleksi yang terpanjang menghiasi dinding adalah hasil hobinya mengoleksi barang bekas sejak tahun 1990-an.

”Saya lihat di tempat lain itu menjual kemewahan untuk menarik anak muda agar merasa nyaman nongkrong. Buat saya, nyaman itu, ya, kayak di rumah dan pulang kampung. Di sini tempat anak muda nongkrong dan belajar atau terliterasi,” ujar Ivan.

Hutan mini

Berbicara lokasi hidden gem lainnya, siapa yang menyangka di tengah kantor kementerian, ada kafe di tengah suasana sejuk dan rindang. Ini adalah Arborea Café. Kafe ini berada di tengah hutan mini yang dipenuhi pohon-pohon tegakan yang sejuk di area Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Pusat.

Bowo Satmoko (63), seorang konsultan lingkungan, selalu mengajak kliennya bertemu di kafe ini. Tak lain karena keunggulan kafe ini yang berada di area yang sejuk dan asri di tengah pepohonan rindang. Selain itu, lokasinya juga strategis di dekat pintu tol dan Stasiun Palmerah sehingga mudah diakses.

”Kalau di sini bisa tetap merasa sejuk walau di tengah kota yang lagi polusi,” ujar Bowo.

Staf Arborea Café Endri mengatakan, konsep kafe ini memang menawarkan tempat makan dan berkumpul yang asri di tengah pepohonan rindang. Biasanya kafe ini didatangi oleh orang kantoran sekitar kawasan ini ataupun muda-mudi yang hendak membuat konten unik di sosial medianya.

Pembebasan diri

Menurut psikolog sosial serta Wakil Rektor Bidang Riset dan Transfer Teknologi Universitas Bina Nusantara Jakarta, Juneman Abraham, perasaan senang pengunjung di tempat yang tersembunyi terjadi karena adanya emosi kegembiraan terhadap elemen keindahan dan kenyamanan dari tempat tersebut. Selain itu, mereka juga menampung keakuan. Orang senang menjadi unik di samping senang bersosialisasi. Pergi ke tempat yang unik sejalan dengan identitas yang unik.

Di sisi lain, lanjut Juneman, tempat yang tersembunyi atau sulit ditemukan berkaitan dengan relasi profesi. Banyak orang merasa perlu sembunyi dari relasi profesi yang sering merenggut ruang-ruang hidupnya. Relasi profesi menjadi salah satu faktor penekan (distress).

Apalagi, kehadiran aplikasi percakapan seperti Whatsapp dan sejenisnya membuat ruang-ruang personal semakin mengerut karena terenggut oleh pembicaraan urusan pekerjaan. Bukan hanya pada saat waktu kerja, ruang personal juga bisa terenggut di luar jam kerja atas nama kepentingan bersama dan perusahaan/kantor yang lebih besar.

Situasi tersebut membuat sejumlah orang sengaja keluar dari grup Whatsapp kantornya atau mengatur Whatsapp-nya agar tidak mudah ditambahkan ke berbagai grup Whatsapp urusan pekerjaan. Hal itu merupakan bentuk lain dari menyembunyikan diri dari relasi profesi.

Menurut Juneman, tempat yang tersembunyi ibarat oase di tengah situasi ruang hidup secara fisik dan virtual yang semakin terdesak oleh relasi pekerjaan. ”Hidden gem ini seperti tambahan ruang di mana aku bisa bertumbuh secara personal, komunitas, bukan pertama-tama profesional. Dengan ketemu dan masuk ke hidden gem, ada perasaan pembebasan diri,” ujarnya.

Narasumber Kepolisian (POLRI) untuk Kesehatan Mental

Pada 7 Juni 2023, saya menjadi narasumber kegiatan di Kepolisian Negara Republik Indonesia bertajuk Membangun Kesejahteraan Mental PNPP (Pegawai Negeri Pada POLRI) guna Mewujudkan SDM Unggul POLRI Presisi.

Dalam rangka memelihara kesejahteraan mental pegawai negeri pada Polri, Biro Psikologi SSDM secara proaktif berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi anggota Polri.

Untuk mendukung inovasi tersebut, Biro Psikologi SSDM Polri melaksanakan Focus Group Discussion dengan tema “Membangun kesejahteraan pegawai negeri pada polri guna mewujudkan SDM unggul Polri presisi”.

Kegiatan ini dibuka oleh Asisten SDM Kapolri dengan mengundang 4 narasumber dari akademisi dan praktisi kesehatan mental.

Kegiatan ini diikuti oleh para Kepala Biro SDM Polda, para pengemban fungsi SDM baik di tingkat Mabes maupun Polda.

Kegiatan FGD ini dimaksudkan untuk mendapatkan kebijakan yang dapat mendukung dalam memberikan perawatan kesehatan mental bagi Pegawai Negeri Pada Polri agar tetap memiliki Mental yang sehat untuk meraih kerja yang hebat.

Self-diagnose (Diagnosis Diri): Is It Good?

Dalam rangka kampanye kesehatan jiwa, Dr. Juneman Abraham berbicara mengenai Self-diagnose yang mengalami pergeseran dari praktik medik menjadi praktik sosial. Guna memperoleh pemaparan yang utuh dari Dr. Abraham dalam ajang PsyClub, 7 November 2020, silakan menghubungi pembicara. Salam Berdaya dan Sehat Mental!

Mengenai Pembicara:

Dr. Juneman Abraham adalah Psikolog Sosial dan Associate Professor di Universitas Bina Nusantara (BINUS) dalam bidang Psikologi Perkotaan, Psikologi Kebijakan Publik, dan Psikoinformatika. Merupakan Ketua Kompartemen Riset & Publikasi, Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), serta Asesor Kompetensi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Psikologi Indonesia dalam bidang Perancangan dan Fasilitasi Pengembangan Komunitas. Menjadi mitra bestari Jurnal Anima – Universitas Surabaya, Jurnal Integritas – Komisi Pemberantasan Korupsi, Jurnal Aspirasi – DPR RI, serta Journal of Social and Political Psychology (JSPP). Melakukan berbagai penelitian serta memberikan seminar dan workshop mengenai Kedirian (Selfhood), diantaranya Kenyataan Diri, Pengelolaan Diri, Konstruksi Diri, Kepalsuan Diri, Perubahan Diri dan Perubahan Sosial, serta Diri Eksistensial, baik di lembaga pendidikan maupun di lembaga bisnis. Pernah menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Psikologi Asia (APsyA) serta merupakan anggota dari World Association of Personality Psychology (WAPP).

Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020

Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) / Hari Kesehatan Mental Sedunia (HKMS) / World Mental Health Day (WMHD) 2020, pada 10 Oktober 2020 mendatang, yang mengambil tema “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access (Kesehatan Jiwa untuk Semua, Investasi Lebih Besar – Akses Lebih Luas), saya kembali mengingat sejumlah passions yang saya tuangkan untuk isu-isu kesehatan jiwa, sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, seperti:

  1. Menjadi Panitia Kegiatan Kuliah Umum Kesehatan Jiwa (2007).
  2. Menulis Di Mana Kita di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia? (2014)
  3. Menjadi Anggota Tim Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) untuk Layanan Sehat Jiwa / SEJIWA 119 ext. 8 (2020)
  4. Menyusun alat ukur (pengukuran) Kesehatan Jiwa berbahasa Indonesia pada masyarakat perkotaan (2012).
  5. Mengadvokasi Rancangan Undang Undang (RUU) Praktik/Profesi Psikologi.
  6. Menyunting Jurnal Ilmiah di bidang Kesehatan Jiwa (The Indonesian Journal of Mental Health), yakni ATARAXIS (2007).
  7. Berbicara tentang Schizophrenia Tahap Awal, dalam agenda Seminar Awam dari Sanatorium Dharmawangsa (2005).
  8. Berbicara pada Simposium Himpunan Jiwa Sehat Indonesia (HJSI), bertajuk Upaya Penyembuhan Gangguan Mental (Skizofrenia) Melalui Terapi Kognitif dan Terapi Keluarga (2005).
  9. Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Seminar Hasil Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI (2012).
  10. Menjadi Ahli Sosial Psikologis dalam rangka Penyusunan Pedoman Sosial Psikologis di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2009).
  11. Menyadur tentang psikologi bencana, bertajuk Psikologi Pelayanan Penyintas Bencana.

Isu-isu Kesehatan Jiwa memang senantiasa menarik bagi saya untuk diperjuangkan bersama, dan menurut hemat saya, kita perlu menemukan bentuk-bentuk layanan yang jauh lebih adaptif mengenai Kesehatan Mental sesuai dengan perkembangan Pandemi dan Revolusi Industri 4.0.