Tag Archives: psikoinformatika

Deepfake AI bukan tentang Komputer/Informatika Semata

Bagaimana jika wajah atau suara Anda dikloning oleh AI untuk menipu orang terdekat Anda? Ini adalah realitas krisis epistemic trust yang kita hadapi hari ini.

Deepfake bukan lagi sekadar hiburan, tapi ancaman nyata bagi psikis dan finansial masyarakat kita, dari tingkat lokal hingga nasional bahkan internasional; tidak sedikit dijadikan sebagai alat politik juga.

Deepfake AI sejatinya adalah gejala psikologi, bukan (hanya) soal ilmu komputer/informatika – melainkan baurannya (psikoinformatika) – yang saya bahas dalam sebuah webinar Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia (ADPI).

Tajuk yang saya angkat adalah, “Ketika Mata Tak Lagi Bisa Dipercaya: Menavigasi Psikologi Deepfake sebagai Potensi Inovasi PkM menuju Indonesia Emas 2045“.

Melalui webinar ini, saya memaparkan mengapa pendekatan psikologi sangat krusial dalam menyusun strategi Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melawan Deepfake. Inovasi PkM harus bergeser dari sekadar literasi digital teknis menuju edukasi resiliensi perilaku.

Sudahkah institusi, perusahaan, atau komunitas Anda menyiapkan langkah konkret untuk mengedukasi warga terkait fenomena ini?

Let’s connect and discuss!

Fantasi Sedarah: Lensa PsikoInformatika

Bagaimana fenomena “Fantasi Sedarah” dilihat dari sudut pandang multidisiplin informatika dan psikologi? Apa hubungannya dengan self-censorship, chilling effect, culturally-sensitive Artificial Intelligence, responsible AI, serta etika dan hukum digital, juga Pendiri Facebook yang sempat meminta maaf?

Simak bincang santai saya di sini!

Salam PsikoInformatika!

Pengukuhan Guru Besar Psikologi Sosial

Pengukuhan Guru Besar bidang Psikologi Sosial berlangsung di Universitas Bina Nusantara (BINUS University) pada 29 Maret 2023, dengan orasi berjudul Melawan Korupsi Ilmu: Trajektori Sains Terbuka dan Psikoinformatika, dihadiri secara luring (onsite) diantaranya oleh :

  • Guru Besar Tamu, Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, M.B.Sc., Ph.D., Psikolog. 
  • Guru Besar Tamu, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Prof. Dr. Elizabeth Kristi Poerwandari, M.Hum., Psikolog.
  • Guru Besar Tamu, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog.
  • Direktur Penyidikan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia, Bapak Brigjen Pol. Asep Guntur Rahayu, S.I.K., S.Psi., M.H.
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Bapak Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog.
  • Ketua Umum Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia dan Rektor Sekolah Tinggi Teologi Ekumene, Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th.
  • Ketua Pengurus Yayasan Tarumanagara, Associate Professor Dr. Ariawan Gunadi, S.H., M.H.
  • Penasihat Ikatan Psikologi Sosial – Himpunan Psikologi Indonesia, Prof. Dr. Mochamad Enoch Markum;
  • Ketua Senat Akademik Universitas Prasetya Mulya, Prof. Andreas Budihardjo, Ph.D.
  • Rektor Universitas Multimedia Nusantara, Dr. Ninok Leksono
  • Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dr. Bagus Takwin, M.Hum.
  • Direktur Utama Lembaga Sertifikasi Profesi Psikologi Indonesia, Prof. Dr. Yusti Probowati Rahayu, Psikolog.
  • Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia Periode 2007 sampai dengan 2014, Dra. Retno Suhapti, S.U., M.A., Psikolog.
  • Penasihat Ikatan Psikologi Klinis HIMPSI, Prof. Dr. Suprapti Slamet Iman Santoso-Sumarmo Markam
  • Ketua Pokja Revolusi Mental, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc.
  • Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Abdul Haris, Makassar, Bapak Ismail Suardi Wekke, S.Ag., M.A., Ph.D.

Otak Manusia dan AI Sedang Berevolusi Menuju Singularitas

Oleh: Tauhid Nur Azhar

Sebagaimana juga topik bahasan terkait perilaku koruptif yang telah dielaborasi oleh Prof Juneman Abraham dalam pidato pengukuhan guru besarnya di Binus University. 

Beliau mengelaborasi topik perilaku koruptif dalam beberapa proposisi yang amat menggelitik area berpikir kritis kita semua. Ada rangkaian sebab akibat yang bekerja di sana. Hingga saat kita hendak mengekstraksi  berbagai faktor yang mempengaruhinya, secara filsafat kita harus terlebih dahulu membereskan masalah episteme yang menjadi pangkal nalar untuk menganalisanya sesuai kadar yang tertakar serta tidak terdistorsi berbagai falacy. 

Sumber: https://www.forsains.com/opini/5698327412/otak-manusia-dan-ai-sedang-berevolusi-menuju-singularitas

https://binus.ac.id/guru-besar/juneman

Teknopsikologi

Sebuah teknopsikologi dibutuhkan untuk memahami era digital ini. Di-coin-nya istilah technopsychology dan sejenisnya (psikoinformatika, sosioteknologi, dan sebagainya) sekadar menggambarkan betapa bersenyawanya (bukan hanya ‘betapa eratnya’) keduanya. Para filsuf telah membahas, bagaimana kebenaran teknologis (technological truth) dimediasikan oleh human hermeneutics guna mengangkat/menyejahterakan umat manusia.

Typographical Era: Magnifying Human Error in the Digital Age
The threshold “error” is our complicity … (Amster, 2018)

Prof. Randall Amster, seorang profesor pensyarah (teaching professor) dari Georgetown University di Washington, DC, Amerika Serikat untuk bidang studi Keadilan dan Perdamaian, menjadikan artikel kami yang berjudul Technopsychology of IoT Optimization in the Business World sebagai bahan kajian dalam artikelnya “Typographical Era: Magnifying Human Error in the Digital Age” di The Society Pages.

Hal ini sekaligus menjadi salah satu penanda menggeliatnya teknopsikologi di tanah air kita, Indonesia.