Kita tidak suka terhadap omon-omon
Namun…,
Kita sendiri kah pelaku omon-omon?
Celoteh di kelas – kita bilang “pendidikan”?
Paper bikinan AI – kita bilang “penelitian”?
Kunjungan masyarakat sesaat – kita sebut “pengabdian”?
Proyekan berseri-seri – kita sebut “keberlanjutan”?
Jurnalisme pesanan – kita namai “dampak kegiatan”?
Sungguh…,
Tobat nasional bukan hanya soal pejabat yang korupsi
Melainkan soal jujur di dunia pendidikan tinggi
Tinggalkan budaya proksi yang hampa arti
Dan selalu selidik berlandas hati nurani
Saatnya kita maraton ….
meninggalkan jauh omon-omon
Hadirkan pengalaman buat rakyat, abang dan nona ….
yang lebih manis, lebih ringan, dan lebih lembut dari sifon !
Puisi ini dibacakan dalam Dies Natalis BINA NUSANTARA ke-45, tanggal 1 Juli 2026
Puisi ini termuat sebagai salah satu Chapter dalam 45 Puisi Humaniora untuk Nusantara (Editor: Andreas Akun)
